Kitab Sutasoma Akan Dipamerkan dalam Rangka Hari Lahirnya Pancasila

12 Juni 2017

Jakarta - Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menggelar Pameran Arsip Lahirnya Pancasila di Museum Nasional pada 2 hingga 15 Juni 2017. Pameran ini bertujuan agar semua masyarakat bisa mengetahui proses lahirnya Pancasila. Pameran ini akan memamerkan sekitar 60 barang peninggalan bersejarah yang terkait dalam proses lahirnya Pancasila.

"Panelnya ada 54, sedangkan item-nya ada sekitar 60," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Kamis (1/6/2017). Hilmar menjelaskan setidaknya ada empat masterpiece atau maha karya yang akan dipamerkan dalam Pameran Arsip Lahirnya Pancasila di Museum Nasional. Salah satunya adalah Kitab Sutasoma.

"Kitab Sutasoma, Sutasoma asli, pertama kali, di atas lontar. Lalu teks pidato Sukarno tentang Pancasila," ucap dia. Kakawin Sutasoma merupakan kitab dari mana semboyan Negara Kesaruan Republik Indonesia dikutip oleh para pendiri bangsa ini. Kutipan Frase “Bhinneka Tunggal Ika” terdapat pada pupuh 139 bait 5.

Hilmar menyebutkan dalam pameran akan ada lembar sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), serta lambang Garuda Indonesia pertama kali hingga akhirnya berevolusi sampai sekarang.

Hilmar menyatakan, pameran ini baru pertama kali dilangsungkan karena mengikuti Keputusan Presiden (Keppres) pada tahun 2016 terkait penetapan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Karena tahun lalu tidak ada peringatan apa pun, maka tahun ini diselenggarakan pameran tersebut.

"Saya kira terkait ya, karena Keppres-nya 1 Juni jadi hari lahirnya Pancasila baru sekadar diberikan libur saja tapi belum diperingati. Tahun ini, baru ada kegiatan menyeluruh. Ide ini juga baru muncul sekarang karena Keppres-nya baru keluar tahun lalu," ujar dia.

Selain itu, Hilmar mengatakan, Pameran Arsip Lahirnya Pancasila juga terkait isu radikalisme yang belakangan marak beredar.

"Jelas ada kaitannya (dengan isu radikalisme). Misinya sederhana saja, bahwa pameran ini bertujuan memberikan informasi yang cukup soal sejarah lahirnya Pancasila, jadi orang punya pemahaman," tutur dia.

Menurut Hilmar pameran ini terselenggara atas kerja sama Kemendikbud, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Museum Nasional tempat diselenggarakannya pameran.

Hilmar menegaskan, sebenarnya Pameran Arsip Lahirnya Pancasila sudah dimulai hari ini di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Namun, ada beberapa alasan hingga akhirnya pameran ini pun dipindah ke Museum Nasional.

"Karena Gedung Pancasila itu sempit dan masih dipakai Kemlu sehari-hari. Kami memandang perlu di Museum Nasional, agar tempatnya lebih luas karena kuat dugaan ini menarik, jadi perlu tempat lebih luas," kata dia.

Terkait promosi yang dilakukan agar menarik minat masyarakat untuk datang ke Pameran Arsip Lahirnya Pancasila, menurut Hilmar, sudah diinformasikan ke sekolah-sekolah.

"Sudah diumumkan ke sekolah-sekolah, guru-guru sejarah, PPKN, mahasiswa, terkait masalah ini untuk hadir. Sebanyak 500 orang nantinya (2 Juni 2017) hadir untuk pembukaan saja, selebihnya sampai (tanggal) 15, bebas," Hilmar menandaskan.