Seminar Nasional Naskah Nusantara : Pangan dalam Naskah Kuna Nusantara

02 Februari 2017

Tradisi tulis di Indonesia sudah ada sejak abad ke empat, yaitu sejak ditemukannya prasasti Yupa di Kalimantan Timur. Dalam buku Indonesian Palaeography, de Casparis menampilkan prasasti-prasasti yang terdapat di Indonesia sejak abad ke-4 sampai dengan abad ke-15 lengkap dengan penjelasan dan alih aksaranya. Kemudian pada abad ke 16–17 tradisi tulis terus berlanjut dengan media berbeda, yang semula teks ditulis pada batu, logam berupa prasasti, pada periode abad ke-16-17 teks ditulis di atas daun lontar atau dluwang dalam bentuk naskah.

Berbagai tulisan dan aksara daerah dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda, seperti hanacaraka, kaganga, ulu dan sebagainya. Demikian juga dengan huruf Arab yang tersebar dan mengalami penyesuaian bunyi di berbagai daerah di Indonesia sehingga dikenal dengan istilah yang berbeda-beda, seperti Jawi, pegon, serang dan sebagainya.

Pada masa penjajahan, naskah-naskah Indonesia banyak yang dibawa ke luar negeri, baik sebagai barang rampasan, upeti, hadiah atau dibeli. Dalam “Catalogue of Catalogue Malay Manuscripts” dan “Catalogue of the Catalogue of Javanese Manuscripts” dapat diketahui sejumlah naskah Indonesia terdapat di beberapa negara. Naskah kuno dapat dikatakan sebagai alat perekat bangsa. Ditinjau dari permasalahan yang terjadi sekarang ini dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kebudayaan warisan leluhur khususnya, padahal warisan leluhur berupa naskah/manuskrip banyak tersimpan kearifan lokal nusantara yang dapat memperkokoh persatuan bangsa. Perpustakaan Nasional RI saat ini tersimpan sebanyak 10.634 judul naskah.

Naskah kuno sebanyak itu apabila dikaji, diteliti, dibedah dan dicermati oleh masyarakat secara luas akan ditemukan benang merah masa lampau sampai sekarang dan diharapkan akan tumbuh kembali kearifan manusia nusantara yang akan memupus kebencian, pertikaian antar etnis dan menggantinya dengan rasa persaudaraan untuk membawa perdamaian. Mahabharata adalah salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional yang isi ceritanya memiliki penyebaran yang sangat luas, lintas bangsa, negara, masa dan terus menerus menginspirasi untuk ditulis, dipertunjukkan dan dikaji hingga saat ini. Mahābhārata disusun dalam bentuk dialog antara Raja Kuru, Dhritarashtra dengan Sanjaya, penasihat serta pengendara kereta perangnya. Sanjaya menceritakan tiap kejadian Perang Kurukshetra yang berlangsung selama 18 hari.

Dhritarāshtra kadang bertanya dan ragu serta berkeluh kesah kepada putra, teman, dan sanak saudaranya karena mengetahui kerusakan yang akan diakibatkan oleh perang saudara. Cerita Bharata Yudha sebagai puncak cerita Mahabharata sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Mahabharata adalah sebuah cerita/epos kepahlawanan. Kisah tentang jatuh bangunnya kebudayaan dan peradaban menusia serta kisah perseteruan antara yang benar dengan yang salah. Mahabarata menceritakan tentang cahaya Ilahi melawan kegelapan. Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai agama dan mitologi. Mengupas cerita Mahabharata adalah sebagai upaya untuk mempersatukan bangsa, karena perseteruan antara yang benar dengan yang tidak benar pada akhirnya yang akan menjadi langgeng dan tetap jaya adalah yang benar, yaitu orang yang memiliki sifat-sifat yang benar dan dapat diterima di lingkungannya.