Labu Parhalaan

NASKAH KUNO

323.3434

Batak

Bahan Labu; Tinggi 15,5 cm; Diameter 7,5 cm

Perpustakaan Nasional RI.

Abstrak

Labu Parhalaan atau Parhalaan adalah almanak atau kalender Batak. Kalender dibuat dari labu yang ditulisi aksara Batak, dilengkapi dengan gambar-gambar simbol dari peredaran bulan. Parhalaan digunakan untuk meramalkan hari baik melaksanakan pesta adat, usaha, perkawinan dan sebagainya.

Parhalaan berasal dari kata Hala, yang artinya Kalajengking. Hala adalah binatang berbisa yang harus dihindari. Dalam pemetaan hari-hari menurut kalender Batak, “hala” berbentuk lambang yang melintang dalam kolom empat hari. Hari yang dihindarkan adalah pada notasi kepala Hala, punggung dan ekor, sementara pada bagian perut dianggap hari baik.

Dalam Labu Parhalaan juga terdapat data astronomi berkaitan dengan waktu terbit dan tenggelamnya matahari dan bulan, gerhana, pasang surut dan sebagainya. Parhalaan mengamati pengaruh siklus bumi, matahari dan bulan ini dengan istilah Pane Nabolon. Yakni, mengingatkan agar manusia bersikap baik kepada alam sehingga tidak berbenturan. Benturan dari reaksi sifat alam dengan sifat perilaku manusia dapat berdampak tidak baik. Sifat alam yang berakibat buruk kepada manusia dilambangkan dengan “mulut dan ekor kalajengking”. Hari sial ini ditemukan dua kali dalam sebulan selama empat hari. Dalam empat hari itu, hanya tiga hari yang dihindarkan dan satu hari dapat dimanfaatkan. Ketiga hari yang dihindarkan adalah pada posisi mulut, punggung dan ekor. Satu hari yang dapat dimanfaatkan adalah pada posisi perut.

File Berkas

Sampul

Ketersediaan