“Kajian Semiotika Penggalan Serat Wicara Keras Dalam Naskah H. Tabbri”, Jumantara Vol. 5 No. 2

Buku Teks

Ahmad Sudrajat

sejarah kepustakaan Surakarta, serat WK, penggalan Serat WK, kajian semiotik

Perpustakaan Nasional RI

2014

Perpustakaan Nasional RI

Abstrak

Pada abad ke-18 sampai abad ke-19 Surakarta mengalami puncak kesusastraan. Hal ini dikarenakan wilayah pesisir yang notabene menjadi aset perdagangan telah dikuasai Belanda, maka dari itu istana mengarahkan ke berbagai bidang kesenian terutama kesusastraan. Ada tiga tokoh besar dalam Kesusastraan Surakarta yaitu Yasadipura I, Yasadipura  II,  dan  Ranggawarsita. Yasadipura  I  sangat  berjasa  dalam kepustakaan  Jawa. Sementara Yasadipura  II  adalah  anak  dari  Yasadipuro  I  yaitu  tumenggung  dengan nama  Raden  Sastranegara.  Dia  juga  berjasa  dalam  Kesusastraan  Surakarta, ia  mampu  membuat  karya-karya  baik  itu  gubahan  maupun  hasil karyanya  sendiri,  salah  satu  karnyanya  adalah  Serat  Wicara  Keras  yang berisikan tentang kepemimpinan  Pakubuwana IV. Nampaknya karya-karya mereka dipakai sebagai bahan rujukan oleh cendekiawan pada masa itu. Ini bisa kita lihat didalam naskah H. Tabbri halaman 311 terdapat penggalan Serat Wicara Keras. Kita tahu Serat Wicara Keras dibuat untuk mengkritisi kepemimpinan Pakubuwana IV, akan tetapi ada makna lain yang mungkin ingin disampaikan oleh H.Tabbri, karena hanya menuliskan penggalannya saja. Kajian semiotik akan dipakai penulis dalam mengonsep, mengimajinasi, menghidupkan pluralnya teks, yaitu betapa terbukanya signifikasinya. Analisis ini menarik penulis gunakan karena akan memudahkan penulis dalam mencari kode-kode yang terkandung didalam teks penggalan Serat Wicara Keras dalam naskah H.Tabbri.

File Berkas

Sampul

Ketersediaan

Ulasan Member

-