“Potret Wanita Dalam Suluk Tanen”, Jumantara Vol. 6 No. 1

Buku Teks

Arsanti Wulandari dan M.Bagus Febriyanto

Suluk Tanen, wanita, Islam

Perpustakaan Nasional RI

2015

Perpustakaan Nasional RI

Abstrak

Wanita adalah tiang agama. Konsep tersebut sangat berbeda dengan wanita  yang hanya dilihat dengan fungsi macak, masak, manak. Demikian halnya status wanita yang dianggap sebagai garwa atau sigaraning nyawa yang dapat dimaknai bahwa wanita hanya sebagai pendamping yang tidak punya kuasa. Hal tersebut menjadi kontras dengan adanya kenyataan pada masa lalu bahwa wanita ternyata tidak hanya berada di belakang suami tetapi berani tampil degan keterampilan berperang sehingga muncul istilah prajurit wanita. Konsep-konsep di atas terlihat berbeda-beda bahkan saling kontra. Pemahaman konsep wanita yang beraneka tersebut hidup di lingkungan budaya yang sama yaitu Jawa. Satu konsep melihat wanita sebagai makhluk yang lemah tetapi di lain pihak wanita dikategorikan makhluk yang kuat. Uraian tentang kekuatan dan kelemahan wanita tersebut menggelitik untuk melihat potret wanita yang terdapat dalam Serat Piwulang Estri khususnya pada Suluk Tanen.

Suluk Tanen adalah salah satu teks yang terdapat dalam Serat Piwulang Estri yang merupakan naskah koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman. Naskah ini ditulis pada tahun 1834 M dan merupakan kumpulan teks yang berisi nasehat kepada wanita. Teks yang kaya akan simbol ini memerlukan beberapa tahapan pembacaan untuk dapat memaknainya. Simbol adalah gambaran ide yang merekam ideologi penulis atau lingkungan penciptanya.  Peran pembaca teks dalam memaknai teks dianggap sebagai perkembangan cakrawala budaya pembacanya. Pembacaan terhadap Suluk Tanen pun akan memperlihatkan ideologi yang dijiwainya.

Perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Suluk Tanen mengibaratkan wanita sebagai ladang bertani, suami sebagai petani dan padi sebagai hasilnya. Ladang yang baik harus mempunyai batas yang jelas, tanah diolah dengan teratur hingga siap ditanami benih. Benih yang ada pun harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk nantinya dapat menghasilkan padi yang berkualitas. Tumbuh kembang benih juga harus dijaga sebaik-baiknya hingga dapat dipanen dan disimpan. Perumpamaan di atas ternyata menjadi simbol tentang wanita yang dimisalkan sebagai lahan pertanian yang harus siap secara lahir dan batin sebelum berumah tangga. Bahkan setelah berumah tangga pun wanita harus selalu mengendalikan dirinya dan menjalankan perintah agama untuk dapat menjaga benih yang nantinya lahir menjadi penerus. Setelah melahirkan pun wanita harus senatiasa menjaga anaknya dan mengajarinya dengan perintah-perintah agama. Dari hasil bacaan terhadap Suluk Tanen tersebut menunjukkan adanya ideologi Islam yang terekam. Ideologi yang muncul dari Suluk Tanen memperlihatkan adanya sikap memuliakan wanita, karena dari wanitalah generasi penerus bangsa akan lahir, sehingga wanita sangat dihargai. 

File Berkas

Sampul

Ketersediaan

Ulasan Member

-